Kolaborasi dengan Walikota Batu dan Pengusaha, LPT PIBK Fakultas Psikologi UMM Siapkan Individu Berkebutuhan Khusus Layak Kerja

Sabtu (12/6) LPT PIBK (Pengembangan Individu Berkebutuhan Khusus) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan seminar nasional untuk menyikapi fenomena individu berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan perhatian agar lebih mandiri, sehingga memperoleh akses untuk bekerja, dan hidup yang layak. Dalam sambutannya, dekan Fakultas Psikologi UMM, Muhammad Salis Yuniardi, PhD, memberikan pengantar seputar kisah anak romawi yang membantu sekitarnya yang mengalami kegagalan, keterlantaran dan yatim piatu. “dari kisah tersebut, marilah kita berkontribusi dan bekerja sama antara pengusaha sekitar Malang untuk membantu individu berkebutuhan khusus agar mendapatkan pekerjaan yang layak”, imbuh Salis. Seminar nasional yang dihadiri kurang lebih 100 peserta via zoom meeting ini diawali oleh materi pertama oleh Dr. Tulus Winarsunu M.Si. Beliau mengawali materinya dengan tema “Menyiapkan masa transisi untuk menghadapi kehidupan setelah sekolah dan dunia kerja bagi siswa berkebutuhan khusus”. Tulus memaparkan sebuah riset tentang gejolak individu berkebutuhan khusus di musim pandemi covid 19. Hasilnya menemukan bahwa covid 19 memunculkan kerugian bagi individu berkebutuhan khusus yang semakin mengalami gangguan double disadvantage. Sedikit keuntungan dari covid 19 yang dirasakan individu berkebutuhan khusus adalah mudahnya pemantauan karena diam dirumah, tetapi sejauh ini masalah yang terjadi jauh lebih besar daripada keuntungan. Masalah lainnya adalah terjadi perubahan mood hingga penurunan kesejahteraan pada individu berkebutuhan khusus yang dinamakan gangguan worse mental well-being. “Banyak kegiatan rutin di sekolah menjadi sudah terbiasa tidak dilakukan atau lose of progress and skills; berkurangnya teman mengakibatkan kurang munculnya keakraban, empati, dll atau disebut increased social isolation; tidak terkontrolnya makanan dan gaya hidup berlebihan serta ketidakjelasan seseorang tentang masa depannya atau physical deterioration and ucertain futures, terangnya. Ia menambahkan pentingnya peran sekolah dalam menyiapkan siswa memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, diperlukan ada peran sekolah untuk anak dalam memasuki dunia kerja. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah menyediakan layanan transisi dan bimbingan karir untuk siswa berkebutuhan khusus, serta peran orangtua dalam mengadvokasi karir anak mereka. Selanjutnya, Mike Ragnar, memberikan pemaparan testimoni pelaku usaha yang mempekerjakan individu berkebutuhan khusus di Malang. Ia menyampaikan individu berkebutuhan khusus yang bekerja dengannya antara lain adalah tuna grahita berat dan ringan , tuli, dan beberapa individu berkebutuhan khusus lainnya. Selama musim pandemi covid 19 Mike merasa Allah mendatangkan ujian kepadanya dengan adanya disabilitas yang melamar pekerjaan di kedai buto 27, kedai yang dirintisnya sejak lama. Hingga saat ini Ia sudah bisa berlatih untuk memberi pengertian bahwa disabilitas ini sebenarnya bisa bekerja hanya tetapi kami perlu bekerja ekstra. Banyak peluang untuk mereka tapi kita harus telaten. Kedai buto sejak 2015 sudah mulai membuka lowongan untuk disabilitas. 3-6 bulan untuk memberikan pengertian kemudian baru bisa diberi perintah. “Dulu sebelum covid19 kedai buto sempat menerima training anak disabilitas, tetapi semenjak ada pembatasan semua terhenti dan ada beberapa pekerja diberhentikan. Saat ini yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitasnya. Keinginan saya adalah untuk masa depan mereka tentang tanggungjawab atas hidupnya. Tiap IBK perlakuannya beda. Cita-cita saya adalah mempekerjakan para individu berkebutuhan khusus di garda depan. Saya mempersiapkan mereka untuk belajar menulis dan segala macamnya”, jelas Mike. Sementara narasumber lainnya, Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si yang juga selaku Wali Kota Batu turut andil menyampaikan materi bertemakan “Peluang berkarir bagi peserta didik berkebutuhan khusus dan kompetensi yang perlu dikembangkan”. Sebagai walikota, Ia mengaku seringkali memberikan kesempatan bekerja bagi disabilitas dalam sektor pemerintahan. Apapun keterbatasan mereka, yang bisa membuka pintu peluang sebenarnya adalah orang tua. Orang tua bukan hanya sense of belonging tetapi juga harus membuat anak bisa dan mau percaya diri. “yang dibutuhkan penyandang disabilitas bukan belas kasih atau fasilitas yang mengkhususkan melainkan dukungan pemerintah dengan memberi kesempatan yang sama, mari kita dorong untuk pemerintah kota utamanya, ketika ada pengusaha untuk membuka usaha jika merekrut 100-an karyawan harus ada yang berkebutuhan khusus, tegasnya. Sebenarnya orang-orang di sekitar memiliki empati yang sangat besar terhadap disabiltas. “Marilah kita membuat sebuah dorongan menjalin kerja sama antar pengusaha, pemerintah, dan instansi untuk memberikan lapangan usaha dan memfasilitasi tempat yang layak bagi individu berkebutuhan khusus sehingga mereka bisa berdikari. Saya tunggu tindak lanjut dari acara ini dalam bentuk program nyata”, pungkas beliau. (izz/fth)
Gelar Konferensi ICEduPsy, UMM Bahas Pengembangan Berkelanjutan di Bidang Pendidikan dan Kesehatan Mental

Sabtu, (12/6), untuk pertama kalinya kolaborasi tiga fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang (Psikologi, Agama Islam, serta Keguruan dan Ilmu Pendidikan) melaksanakan konferensi internasional bertajuk “ICEduPsy”, International Conference on Education and Psychology. Beberapa pakar dari Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Fatoni dari Thailand, Universitas Malaya Kuala Lumpur-Malaysia turut andil dalam membahas dan mempromosikan pengembangan berkelanjutan di bidang pendidikan dan psikologi. Acara ini dilangsungkan secara blended (bauran) dengan mempertimbangkan protokol kesehatan yang ketat bagi peserta luring. Dalam sambutannya, Ketua Panitia ICEduPsy, Dr. Atok Miftachul Huda, M. Pd, mengucapkan terimakasih kepada para peserta konferensi yang telah hadir secara daring dari berbagai negara seperti Australia, Canada, German, Mesir dan lainnya. Sementara, Wakil Rektor bidang Akademik UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si, yang bertindak sebagai keynote speaker menyebutkan bahwa tantangan yang dihadapi Muhammadiyah ini lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya. “Dalam bidang Pendidikan yang dirintis Muhammadiyah ini menjadi saluran mobilitas vertikal, terbukti dengan banyaknya tokoh nasional dari Lembaga Pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena itu Muhammadiyah harus memegang peran penting dalam memoderasi pengembangan berkelanjutan di bidang pendidikan dan kesehatan mental”, tuturnya. Selebihnya, Ia menambahkan bahwa pendidikan dimaknai sebagai investasi jangka panjang, siapapun dapat menambah ilmu hanya dengan “talaqqi” atau tatap muka dengan internet terutama bagi generasi milenial. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat hal esensial yang harus dipertimbangan, seperti input, proses, output dan hasilnya ialah muara Pendidikan. Tak berhenti disitu, pendidikan juga harus berujung pada perilaku yang beradab, sehingga manusia tak lemah dalam kecerdasan emosional. Hal tersebut dirasa penting untuk memperkuat hubungan manusia dengan manusia dan juga dengan Tuhan agar manusia mendapatkan kebahagiaan yang Hakiki, terang Prof. Syamsul. Narasumber kedua, Prof. Dr. Datuk Ahmad Hidayat Buang., PhD dari Universitas Malaya, Kuala Lumpur-Malaysia juga mempromosikan pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan berbasis pengetahuan dan inovatif dalam Perspektif Islam. Beliau dalam penjelasannya mengistilahkan bahwa manusia pada dasarnya serakah dan merusak, efek dari sifat buruk manusia dapat menyebabkan krisis sosial, perang, perbudakan, krisis ekonomi, kemiskinan/kelaparan, pandemi, penyakit bahkan polusi. Terdapat 6 kategori yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan, seperti kebutuhan utama manusia, pengembangan manusia, ekonomi, kondisi kehidupan, ekosistem dan hak asasi manusia. Menurutnya, hal ini harus menjadi perhatian, agar sifat buruk dan keserakahan manusia tidak berdampak pada masa depan. Dibutuhkannya pembangunan berkelanjutan yang harus mampu memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri sekaligus agar generasi sekarang dapat mempertimbangkan kebaikan pada generasi selanjutnya. “Sebagai manusia hendaknya harus bertanggung jawab dengan cara berbagi, peduli, melindungi, menyeimbangkan, serta melestarikan apa yang sudah dimilliki” ujarnya. Assoc. Prof. Dr. Phaosan Jahwae dari Universitas Fatoni, Thailand juga ikut andil dalam menyuarakan pentingnya pembangunan berkelanjutan dalam bidang Pendidikan. Ia melihat latar belakang negara Thailand yang hanya mengamalkan monolanguage system yakni hanya menggunakan satu bahasa saja (Thai), membuat para pelajar begitu lemah dalam bahasa asing. Hal itu menarik perhatiannya untuk membentuk QAiMt Model for Students in the Patani Shouthern Thailand 4. 0 Era. QAiMt model ini menggabungkan Alquran, Hadis, Aqidah, Fiqih, Sejarah Nabi, Akhlak, Bahasa Arab dan Melayu. Pengaplikasian model QAiMt ini lebih menarik perhatian para pelajar karena didalamnya terdapat teknologi tertentu serta adanya nyanyian yang menarik minat pelajar. Selanjutnya, Muhammad Salis Yuniardi, S. Psi., M. Psi., PhD selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang juga bertindak sebagai pembicara dalam konferensi ini memaparkan pembangunan berkelanjutan dalam bidang kesehatan menta. Ia membahas mengenai Intolerance of Uncertainty yakni bagaimana kognitif manusia menanggapi sesuatu yang tidak pasti. Ia menyatakan dalam seminarnya bahwa variabel tersebut pada indikator kesehatan mental seseorang, mampu memprediksi performa kerja. Salis juga membahas bagaimana IU (Intolerance of Uncertainty) mengambil peran dalam recovery kesehatan mental masyarakat Indonesia di masa pandemi. (fs/fth)